Opini

Negara Wajib Hadir Lindungi Pekerja Platform

Oleh: Roni Febrianto, ST, M.Fil

Ekonomi platform adalah salah satu wujud paling signifikan dari perubahan teknologi digitalisasi. Komponen utama dan paling penting dari ekonomi platform adalah platform tenaga kerja digital yang terdiri dari: 1) Platform berbasis lokasi, tempat layanan disediakan individu dilokasi tertentu  2) Platform daring, tempat pekerja menyediakan layanan dari jarak jauh. Ekonomi platform dalam dekade terakhir membuka pasar baru bagi bisnis dan menciptakan peluang lapangan pekerjaan baru dan pendapatan baru  dengan tawaran fleksibelitas bagi sebagian pekerja yang ingin memperoleh pendapatan tambahan. Ekonomi platform mengubah secara signifikan cara kerja dengan tantangan dalam memastikan bahwa para pekerjanya tetap harus memiliki upah dan jaminan sosial yang layak sebagai manusia.

Secara internasional Pimpinan Badan Perburuhan Internasional (ILO) memutuskaan untuk memasukan item penetapan standard tentang pekerjaan yang layak dalam bidang ekonomi platform ke dalam agenda sesi ke 113 dan ke 114 Konferensi Perburuhan Internasional (Juni 2025 dan Juni 2026).[1]  

Bila dilihat dari sudut pandang hukum maka pekerja platform digital bisa dilihat dari 2 (dua) kelompok. Pertama,kedudukan hukum pekerja platform digital dengan Rewind Booth dapat dikualifikasikan sebagai subyek hukum ketenagakerjaan yaitu pekerja dengan hubungan kerja yang memenuhi unsur pekerjaan, upah, perintah akan  tetapi diikat dengan perjanjian kerja lisan. Pengaturan hak-hak normatif mengenai upah, waktu kerja, jaminan sosial belum bisa didapatkan oleh pekerja platform digital karena diikat dengan perjanjian kerja lisan serta peraturan ketenagakerjaan yang berlaku saat sekarang terlalu formalistik. Kedua,pelindungan hukum terhadap pekerja platform digital dapat diberikan melalui pelindungan hukum preventif dan pelindungan hukum represif. Pelindungan hukum preventif secara umum terdapat di dalam peraturan ketenagakerjaan. Pelindungan hukum represif dapat ditempuh melalui mekanisme Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Pelindungan hukum preventif dan pelindungan hukum represif tersebut masih bersifat umum, belum ada peraturan secara khusus memberikan pelindungan hukum untuk para pekerja platform digital.[2]

Perhatian ILO terkait pekerja platform

Perubahan dunia yang begitu cepat yang didorong kemajuan teknologi digital menciptakan banyak peluang sekaligus tantangan di sektor ketenagakerjaan. Pertumbuhan berbagai platform ekonomi berbasis digital telah mengubah kebiasaan masyarakat, mulai dari melakukan transaksi pembayaran, berbelanja, transportasi secara daring. Meskipun platform digital digadang-gadang dapat menjadi motor pendorong ekonomi dengan penciptaan lapangan pekerjaan baru, tetapi aspek keamanan kerja dan perlindungan sosial para pekerjanya perlu diperhatikan secara serius. Direktur Jenderal Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) Gilbert F Houngbo mengakui bahwa perlindungan bagi pekerja platform masih sangat lemah, bahkan “tidak ada”, karena masih sumirnya hubungan kerja. Rentan kehilangan pekerjaan, jam kerja tidak menentu, penghasilan yang tidak terprediksi, kesenjangan upah berbasis gender, dan tidak adanya jaminan kesehatan serta perlindungan hukum yang menyebabkan lemahnya perlindungan bagi pekerja platform.[3]

Bagaimana kerja Aplikator memiskinkan pekerjanya

Para  Driver  banyak belum sadar, jika setiap hari banting tulang panas-panasan dan hujan-hujanan tapi penghasilan ini makin tipis karena insentif makin susah didapat saat ini. Sebelum pandemi covid-19 pendapatan bisa diatas upah minumim tapi  sekarang malah ngap-ngapan jauh dibawah upah minimum. Salah satu penyebabnya karena driver ojol tidak paham sistem yang digunakan aplikator ride helling seperti GOJek, Grab, Uber atau Shopee dll yang  menggunakan sistem robot AI namanya XAI atau explainable AI. Dimana semuanya mengatur siapa yang dapat orderan berapa insentifnya dan bahkan seberapa banyak para driver online bisa bertahan di industri ini dan lebih terparahnya lagi di Indonesia kemungkinan menggunakan sistem AI untuk meraup untung sebesar-besarnya.  XAI atau Explainable AI adalah algoritma cerdas yang membaca pola kerja driver yang menjalankan sistem ride hailing seperti ojek online ini. Sistem semuanya menilai performa, menentukan siapa yang lebih diprioritaskan siapa yang dibatasi dan bahkan siapa yang bakal dibunuh pelan-pelan dari sistem ini. Algoritma bisa menurunkan prioritas driver online kalau dianggap tidak sesuai dengan target aplikator terus ada yang namanya search pricing atau tarik melonjak itu bukan harga naik karena permintaan lagi tinggi-tingginya, semuanya itu aturan main yang diatur AI untuk memaksimalkan keuntungan aplikator jadi para driver ojol-ojol ini cuma jadi bidak dalam permainan aplikator. Tarif naik  bukan karena pro ke driver sepenuhnya  tapi XI melihat pada masa tertentu seperti permintaan atau demand jasa sedang naik sedangkan suply ketersediaan driver sedikit di sekitaran lokasi tersebut. XAI industry right helling dijalankan menggunakan sistem yang sudah diatur dengan sangat canggih. Semua  penerimaan pesanan customer jenis layanan yang digunakan jarak tempuh dan harga juga sudah dapat diukur secara sistem hingga aplikasi sudah menentukan harga sesuai jarak tempuh pengguna customer. Semuanya selanjutnya baru ditransfer ke driver-driver. XAI akan bekerja sesuai algoritma dan tentunya pertanyaannya bagaimana algoritma ini bekerja.  XAI dalam Ride Helling bekerja dengan memproses berbagai data untuk menentukan yang pertama itu tarif dinamis atau search pricing XAi mempertimbangkan permintaan ketersediaan driver waktu tempuh serta kondisi lalu lintas sebelum menetapkan harga perjalanan dan poin keduanya adalah alokasi orderan XAI ini juga membandingkan driver terdekat tingkat kepercayaan. Ratingnya juga dipertimbangkan riwayat perjalanan untuk menentukan siapa yang dapat orderan jadi yang menentukan dapat orderan itu bukan staf yang berada di kantor-kantor tersebut tapi sudah menggunakan XAI. Poin ketiganya adalah evaluasi performa driver seperti rating, semuanya sistem XAI menganalisis pola kerja driver tersebut jadi keterlambatan pembatalan serta kepuasan pelanggan untuk memberikan insight performanya, jadi rating ini adalah salah satu juga yang dinilai oleh sistem XAI atau AI yang dimiliki oleh aplikator ini untuk menentukan siapa yang dapat orderan.  Selain juga XAI ada juga namanya Blackbox AI. Jadi ada dua kemungkinan yang digunakan pihak aplikator untuk menentukan tentang orderan dan juga tarif dari layanan ini ada tadi yang pertama adalah XAI yang kedua adalah Blackbox AI.

Semuanya yang proses pengambilan keputusan internalnya tidak transparan,  sistem black box dalam konteks AI untuk ride high merujuk pada model yang tidak sepenuhnya transparan dalam cara kerjanya semuanya input atau output dapat dipahami akan  tetapi proses internalnya sulit dianalisis dan dipahami oleh para-para driver. Sekilas bagaimana cara kerja Blackbox AI pada sistem ride hiling yang pertama adalah itu input data permintaan pengguna jadi lokasi penjumputan dan tujuan data pengemudi lokasi pengemudi status ketersediaan dan ratingnya tentunya dan lingkungan kondisi lalu lintas cuaca dan waktu data historis riwayat perjalanan sebelumnya pola permintaan dan perilaku pengguna jadi fungsinya dari Blackbox AI ini adalah merekam setiap kegiatan baik pengguna ataupun driver itu sendiri. Semuanya sistem adalah model pembelajaran mesin (Mechine Learning) jadi menggunakan algoritma seperti neural networks untuk memproses data input jadi algoritma itu tergantung bagaimana kebiasaan dari pengguna driver itu sendiri dari input data model AI dan blackbox itu adalah penentu siapa yang dapat orderan dan juga bagaimana tarif itu naik atau turunnya dan blackbox juga berproses dalam model AI yang tidak bisa dijelaskan dengan pasti sehingga sulit untuk memahami bagaimana keputusan diambil h Blackbox AI,  hanya sistem aplikator yang mengetahui tentang sistem ini. Yang pasti  semuanya menguntungkan bagi aplikator karena mampu memproses data besar dan kompleks dengan cepat memberikan hasil yang akurat dalam penugasan pengemudi dan estimasi tarif, balik itu sebenarnya ada tantangannya kurangnya transparansi dalam menyebabkan kesulitan dalam menjelaskan keputusan kepada pengguna dan pengemudi inilah fungsi blackbox AI jadi tidak heran kadang tarif dan pendapatan bisa berubah-ubah tanpa pemberitahuan yang jelas oleh aplikator.

Karenanya banyak kejadian-kejadian yang memberitakan sekarang itu para driver-driver dirugikan dari tarif-tarif yang tidak normal jadi sehingga kita menyimpulkan yang digunakan oleh aplikator itu adalah sistem black box karena minim transparansi untuk para driver. Blackbox AI  aplikator bisa lebih leluasa mengatur strategi bisnisnya tanpa harus menjelaskan detail ke drivernya. Sangat menyedihkan jika hal ini terjadi di Indonesia. Sekarang berbicara angka nih pemotongan komisi itu sekitar 10 sampai 15% ya memang  kemarin ada berita-berita itu 12% sampai 20% kan gitu ini kita buat 10 sampai 15% pada setiap orderan dan terkadang juga bisa berubah-ubah tanpa ketentuan yang pasti kapan akan berubah dan kurangnya notifikasi pemberitahuan terlebih dahulu. Contoh persentase pemotongan, dibayarkan Rp14.500 itu diterima Rp  12.750 per total  Pemotongan Rp 1.750 jadi potonganya adalah 12,7 %  jadi kita rata-ratakan kemungkinan di Indonesia itu sekitar 12,7% tapi kadang ada biaya-biaya tambahan banyak yang beredar berita-berita sekarang ada sudah dipotong ada lagi pembayaran untuk a untuk paket untuk paket ini paket tu kan gitu ini sangat-sangat memberatkan para driver. Banyak yang menguluhkan sekarang makin sulit mencapai target karena tidak masuk akal, ini bukan kebetulan aplikator sadar makin banyak driver yang tidak  paham sistem makin gampang mereka dikendalikan dan lebih parahnya lagi adalah pemerintahan Indonesia masih angin-anginan melihat fenomena yang terjadi pada driver Ojol di Indonesia, seharusnya mereka membuat regulasi yang melindungi para driver  Ojol bukannya cuma jadi kritik di sosial media saja tapi ambil aksi yang konkret yang jelas dan tegas serta memiliki rentang waktu nih kapan dijalankan. Jika para driver Ojol hanya berikan kritik di Med Sos hanya dianggap angin lalu dan aplikator semakin tidak peduli dengan nasib para driver Ojol? 

            Sekarang banyak  kita temuin di jalan-jalan kendraan ojol  yang mereka yang digunakan untuk operasional itu motor yang tidak layak, jaket-jaket mereka juga yang compang-camping.  Jika driver ojek online ini tidak memahami algoritma akan membuang biaya, membuang waktu dan membuang tenaga. contoh kalau seandainya dalam short trip atau istilahnya jarak pendek bisa mendapatkan 5 sampai 10 berarti bisa menghasilkan Rp50.000 sampai Rp100.000 sedangkan modal kalau berputar-putar biaya bahan bakar mungkin sekitar Rp 20.000 sampai Rp 25.000 masih menguntungkan. Jadi jasa transportasi jika jaraknya masih memungkinkan dan dekat ambil sebagai strateginya. Kesimpulannya adalah harus pintar-pintar membaca algoritma ini mulai sekarang harus mulai dicatat dan jangan menggunakan perasaan, sekarang ada dua pilihan tetap mau jadi sapi perah kerja mati-matian buat keuntungan orang lain atau mulai memahami sistem melawan dengan cerdas dan ambil kendali atas penghasilan sendiri dengan memahami XAI agar tidak jadi  mainan sistem ojol dan hanya  pasrah cuma jadi korban.[4]  

            Untuk mengatasi permasalah perlu ada aturan yang mewajibkan perusahaan transportasi online lebih treansaparan membuka sistem mereka. Perkembangan XAI secara konsep, sistem AI bisa menjelaskan bagaimana perusahaan online mengambil keputusan untuk output tertentu. Dalam konteks industri transportasi online, XAI dapat menjealaskan bagaimana tarif dihitung dan mengapa tarif yang berbeda ditempat yang sama. Penerapan XAI dalam industri ride-hiling bisa diberlakukan juka ada aturan yang mrwajibkan penyelenggara sistem AI mengungkap cara kerja sistem AI mereka. Merujuk pada Annex III EU AI Act,  mewajibkan sistem AI didesign secara transparan, sehingga akan membuat platform ride-hiling bertanggung jawab menyediakan informasi tentang cara kerja sistem AI dalam platformnya. Salah satu hal yang dapat dilakukan misalnya dengan memberikan akses kepada pengguna maupun driver untuk mengetahui komponen tarif  dan cara penghitungannya. Dengan transparansi maka keputusan algoritma tidak aan sewenang-wenang lagi sehingga pengguna dan driver akan merasa diperlakukan lebih adil dalam setiap transaksinya.[5]

Rencana akusisi Go To oleh Grab dan dampaknya bagi rakyat.

Kita akan  membahas sesuatu yang sangat serius diperbincangkan di Singapura, ini berawal dari sebuah rumor yang beredar di Singapura kemudian ditangkap oleh media terpandang Reuters pada tanggal 7 Mei 2025 bahwa Grab akan melakukan akuisisi terhadap perusahaan Indonesia.  Perusahaan transportasi daring dan pengiriman makanan yang terdaftar di AS, Grab sedang berupaya mencapai kesepakatan untuk mengambil alih pesaing kecilnya di Indonesia, GoTo pada kuartal kedua. Dua sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan, Grab yang berkantor pusat di Singapura telah merekrut penasihat untuk menangani kesepakatan yang diusulkan. Kesepakatan tersebut tunduk pada ketentuan seperti pembiayaan, yang sedang didiskusikan Grab dengan bank. Saham GoTo yang tercatat di Bursa Efek Jakarta telah naik 20% tahun ini, sehingga nilai pasarnya menjadi sekitar $5,8 miliar, menurut data LSEG. Saham Grab di Nasdaq naik 2,4% sepanjang tahun ini, memberinya nilai pasar hampir $20 miliar, menurut data LSEG. GoTo akan menjual unit internasionalnya. Di Indonesia, GoTo akan menjual seluruh operasinya kecuali divisi keuangannya kepada Grab.[6]

GoTo  menyangkut kepentingan banyak orang di Indonesia karena marketnya lebih dari 200 juta orang, sehingga kemudian membangun digital ekosistem yang sangat luas, yang menyangkut sekitar 3,1 juta driver ojol terdaftar bersama dengan 20,1 juta pelaku usaha UMKM. Belum lagi mereka yang teregister sebagai pengguna jasa keuangan GoTo. Jadi sangat luas sekali, menyangkut kepentingan: Satu, kepentingan kebanggaan nasional. Kedua, menyangkut soal kepentingan data. Ketiga, soal lapangan pekerjaan, Keempat jaring pengaman ekonomi nasional. Bukankah dalam setiap hal yang menyangkut hal strategis itu negara biasanya turun tangan? Oleh karena itulah maka kita menunggu bagaimana rencana pemerintah selanjutnya. Ini menjadi sangat penting sekali karena pemerintah yang hadir tentu perlu memikirkan national security. Semua bangsa sedang rewel tentang national security terutama sejak adanya perang tarif. Perang tarif ini membangunkan bangsa-bangsa untuk lebih berhati-hati karena sifat perang di zaman ini juga berubah. Kalau perang itu adalah tempur tentara lawan tentara langsung di perbatasan, kali ini kita menyaksikan perang ini sudah bersifat proxi dan menyangkut soal data. Reuters kemudian menyebutkan bahwa pihak Grab telah merekrut penasehat keuangan untuk menangani kesepakatan tersebut. Dan ini akan menimbulkan dampak strategis dan sosial yang sangat besar karena biasanya kalau satu perusahaan melakukan merger dan bidangnya sama tujuannya bukan untuk saling melengkapi melainkan untuk mencari efisiensi dan memperluas pasar. Maka segala sesuatu yang redundant yang bertubrukan yang bersamaan di tengah-tengah pasti akan dibersihkan karena mereka mencari efisiensi. Yang dikhawatirkan adalah lapangan pekerjaan akan berkurang. Jadi pihak yang terlibat akan berkurang demikian pula pada konsumen. Konsumen tentu akan rewel sekali karena tidak lagi menyaksikan adanya bebas ongkir, potongan harga diskon, dan cara-cara berjualan yang kreatif yang selama ini sudah kita saksikan. Kalau mereka melakukan konsolidasi, kita menyaksikan akan terjadi satu perubahan besar karena perusahaan yang baru. Itu akan menguasai lebih dari 90%. Tentu saja ini akan terjadi kontrol dan kemudian pilihan bagi masyarakat akan berkurang dan tentu saja harga yang efisien harga yang menguntungkan bagi konsumen ini akan berakhir. Tentu saja di balik itu semua juga ada keamanan data Jangan lupa setiap bangsa ketika bicara tentang national security maka mereka juga akan berbicara tentang keamanan data. Karena di dalam data itu kita bisa membaca apa sih yang sedang ada dalam pikiran orang setiap hari pikiran dalam konsumsi dalam bepergian, kemudian mereka bergerak ke arah mana sibuk ya di daerah mana itu semua bisa dipantau dari luar negeri dan kemudian juga apa yang dibeli oleh masyarakat kita. Kalau itu kemudian bisa didapatkan maka selesailah bagaimana suatu bangsa menguasai bangsa lainnya ini tentu perlu kita pikirkan karena di dalamnya ada suatu ekosistem, ada data dan ada national pride. Ditambah lagi tentu saja ada hal lain, hal yang menyangkut misalnya tentang pengembangan digital talent selama ada GoTo yang kita anggap ini sebagai unicorn Indonesia yang di-nurture oleh orang-orang Indonesia. Maka ini akan melakukan komitmen untuk mengembangkan digital talent untuk bangsanya. Tapi kalau sudah beralih ke pihak lain, ini akan lain lagi ceritanya dan ke mana? Dunia tengah mengalami banyak perubahan kalau di Indonesia kan selalu kita dengar berita itu terjadi PHK hari ini perusahaan elektronik, besok perusahaan alas kaki. Satu persatu terjadi ini. Kemana jaring pengamanan sosial mereka? Apakah negara terus-menerus bisa menanggung mereka? Rasanya kan tidak dan setiap kali ada gangguan ekonomi. Kalau dulu itu penyebabnya adalah krisis ekonomi, karena ada bisnis cycle yang menghantam suatu bangsa atau ekonomi suatu bangsa atau suatu perusahaan sehingga kemudian orang dikurangi atau dilakukan PHK. Kalau dulu sektor yang menjadi andalan masyarakat adalah pertanian. Lalu pemerintah mengatasinya dengan menciptakan sektor padat karya. Itu kalau pemerintahnya lagi punya duit kalau pemerintahnya sedang mengalami kesulitan mendapatkan pendapatan fiskal, hutangnya banyak, kemudian juga pemerintah sedang memerlukan uangnya untuk menggunakannya pada program-program yang lain, maka sektor andalannya bukan lagi sektor padat karya. Diperlukan sektor lain dan sekarang ini yang menjadi andalan itu memang adalah menjadi driver ojol atau menjadi pelaku usaha UMKM secara online secara digital. Jadi bayangkan kalau nanti ini semua hilang pasti akan muncul persoalan-persoalan lain bahwa betul kita memang perlu ramah terhadap investasi asing. Kita perlu mendapatkan teknologi dari mereka mereka membawa kesempatan yang bisa barangkali membuat kita belajar. Tapi kita juga perlu menjaga kepentingan nasional kita hampir setiap hari kita membaca berita-berita ekonomi atau politik internasional kita selalu mendengarkan pidato kepala negara atau tokoh ekonomi suatu bangsa termasuk para ekonomnya yang mengatakan “This is our national interest.” Jadi kepentingan bangsa itu adalah sesuatu yang sangat penting sekali untuk kita jaga terutama pada industri-industri yang strategis, menciptakan lapangan pekerjaan, sedang dipikirkan, menjaga keamanan nasional, menimbulkan kebanggaan nasional. Kalau sudah begitu lengkap semua yang saya sebutkan tadi itu ada di dalam GoTo. Kebanggaan nasional tentu perlu kita jaga dan mari kita lihat apa yang dilakukan oleh berbagai bangsa ketika mereka menghadapi atau membutuhkan investasi asing.  Rumor yang beredar di Singapura itu bukanlah rumor kaleng-kaleng karena rumor ini telah dimuat di Reuters, sebuah media yang berwibawa yang dipercaya oleh masyarakat pasti telah mempertimbangkan mengapa mereka menurunkan informasi ini dan informasi ini menyangkut perusahaan nasional indonesia yang tentu saja ini menjadi kebanggaan nasional di tengah-tengah tadi saya menyebut ada job disruption ada job crisis. Tapi juga terjadi unicorn kita dalam bidang startup satu persatu gulung tikar, ada masalah beralih ke pihak asing dan kita sekarang tinggal punya GoTo sekali lagi GoTo ini potensinya sangat besar jumlahnya mempengaruhi kehidupan masyarakat sangat luas tentu juga menciptakan dampak yang dalam tanda kutip agak sistemik begitu. Negara tentu perlu memikirkannya, demi kejayaan bangsa Indonesian. [7]

Apa yang seharusnya para driver online harus terus lakukan

Demo dari pekerja Platform atau ojol mungkin sudah tidak asing dan dari tahun-tahun sebelumnya jadi mereka sebenarnya ada lima tuntutan demo ojol 20 Mei 2025 isinya tidak jauh-jauh soal masalah biaya aplikator yang lumayan tinggi  dan pemberlakuan Peraturan Menteri Perhubungan yang tidak dijalankan dengan baik. Ada beberapa potongan yang potongan siluman, misal  trayaknya  Rp 24.000  seharusnya driver dapat Rp 19.200 tapi baiaya aplikasi dan lainnya sampai Rp 14.400 untuk taksi online tapi pihak aplikator tidak mau terbuka dan transparan karena buat mereka sudah bagus bisa kerja flexible jadi daya tawar para driver ojol sangat lemah. Pihak aplikator beralasan ada biaya-biaya yang tidak bisa ukur. Di perusahaan transportasi online memberikan angka yang jelas ini sudah jadi permasalah lama.

            Secara prinsip ekonomi gig tidak memiliki hubungan kerja dengan perusahaan melainkan dengan hubungan kemitraan. Namun istilah hubungan kemitraan tidak tercakup dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Konsep hubungan kemitraan justru ada dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM yang diartikan seperti ini. Tapi konteksnya berbeda dengan praktik kemitraan yang kini marak diterapkan, misalnya soal pendapatan upah para mitra diperoleh dari bagi hasil dengan perusahaan aplikasi. Belum lagi bicara soal kesejahteraan sampai hak para mitra sama-sama bekerja Apakah para mitra juga dikategorikan sebagai buruh, pada kenyataannya memang sebenarnya mereka tuh buruh yang berada dalam hubungan kerja karena mereka punya hubungan subordinasi yang jelas dengan dengan platform. Namun secara hukum karena definisi hubungan kerja yang memang sangat sempit dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan para pekerja platform belum tidak bisa dikategorikan sebagai pekerja dalam hubungan kerja menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan dan akhirnya juga tidak mendapatkan perlindungan sebagaimana pekerja. Secara empiris mereka pekerja, juga secara normatif mereka tidak terlindungi, padahal pekerja mereka melakukan pekerjaan. Pekerja platform  memerlukan perlindungan sebagai pekerja. Akibatnya  potensi eksploitasi akibat ketimpangan hak dan kewajiban yang diberikan platform kepada pekerja platform dari segi jam kerja dan pendapatan yang dihasilkan sangat rendah Sejumlah studi menemukan mayoritas pekerja gig pengemudi ojol bekerja rata-rata 9 sampai 12 jam per hari, sudah kerja keras pendapatan mereka pun minim Pada 2022 sampai 2023 pendapatan kotor rata-rata platform hanya sekitar Rp168.000 per hari dan  belakangan ini terus terus menurun.  Jaminan sosial memang bisa BPJS tapi harus ditanggung sendiri,  kalau ada kecelakaan kerja itu jadi resiko yang mereka tanggung sendiri. Jadi mereka berada dalam kondisi yang memang sangat rentan.

            Dua perusahaan pesan-antar makanan Chna, JD.Com dan Meitua, mulai menawarkan asuransi sosial dan tunjangan pekerja lainnya pada para pekerjanya. Ini menandai sebuah langkah signifikan menuju industri pesan-antar karena selama ini para pekerja platform kurang mendapatkan perlindungan hukum dari negara. Perlindungan akan mencakup asuransi dana abadi, jaminan kesehatan, jaminan penganguran, jaminan kecelakaan kerja, jaminana saat hamil serta satu dana jaminan perumahan. Pihak perusahaan akan mulai membayar mulai kuartal kedua dan inisatif ini akan menjadi contoh dalam meningkatkan kesejahteraan para pekerja platform. Pada Juli 2022, China meluncurkan proyek percontohan untuk perlindungan kecelakaan kerja bagi peketja fleksibel Meituan dan Dada, unit logistic JD. Com , termasuk diantara  tujuh perusahaan pertama yang berpartisipasi. Sekitar 10,2 Juta orang dilindungi pada November tahun lalu menurut data yang dirilis Konferensi Kerja Sumber Daya Manusia dan Jaminan Nasional Nasional.[8]

Persoalan utama pekerja platform dengan sistem kemitraan adalah ketiadaan perlindungan bagi akibat definisi hubungan kerja dalam undang-undang ketenagakerjaan yang dinilai terbatas dan tidak adaptif. Karena tidak ada aturan hukum yang jadi rujukan pada akhirnya muncul kesepakatan yang sifatnya eksploitatif. Yang jelas harus ada batas minimum perlindungan yang diberikan, karena bagaimanapun mereka adalah pekerja dan menjadi tidak adil bagi mereka bekerja tanpa adanya perlindungan yang memadai dari negara  Jadi sebenarnya memasukkan mereka ke dalam salah satu agenda yang dibahas di revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan menurut saya salah satu opsi yang menarik untuk didorong sih hari-hari ini. Indonesian. Akhirnya keputusan ada  para Driver ojol sekarang kalian mau tetap dibodohi atau mulai melawan dengan mulai membangun kesadaran dengan bergabung dengan Serikat Pekerja untuk sama-sama berjuang agar tidak dijadi sapi perahannya aplikator selamanya.


[1] https://www-ilo-org.translate.goog/digital-labour-platforms? (diakses 26 Mei 2025)

[2] https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/225749 (diakses 26 Mei 2025)

[3] https://www.antaranews.com/berita/3301387/pekerja-platform-harus-dilindungi#google_vignette (diakses 26 Mei 2025)

[4] https://www.youtube.com/watch?v=GaBe5hijSaU (Diakses 26 Mei 2025)

[5] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20250315142046-37-618891/terungkap-ini-penyebab-tarif-ojol-beda-beda-meski-jarak-tempuh-sama (Diakses 27 Mei 2025)

[6] https://www-reuters-com.translate.goog/sustainability/boards-policy-regulation/grab-looks-strike-deal-acquire-indonesias-goto- (Diakses 26 Mei 2025 )

[7] https://www.youtube.com/watch?v=Yb-lA4qtGbQ (Diakses pada 26 Mei 2025)

[8] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20250312131351-37-617918/belajar-dari-china-kurir-online-dapat-bpjs-kesehatan-ketenagakerjaan (diakses 27 Mei 2025)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *